Tuesday, July 21, 2015

Islam di Kantor Polisi New York (NYPD)

Oleh: Ali S. Asani
Kemarin, tgl 18 Januri 2001 pukul 9-12 siang, Police Inspector Imam Ezekil Pasha, Imam mesjid Malcom Shabbaz New York, yang juga kini menjabat sebagai Head NYPD Chaplain, mengadakan Forum Dialogue on Islam bersama Police Officers, FBI dan CIA di kota New York.
Kesan yang timbul, kebetulan saya ikut menjadi salah seorang nara sumbernya, bahwa betapa Islam lebih dikenal sebagai sebuah "tradisi hidup" yang dipraktekkan oleh berbagai manusia, dengan gaya dan pendekatannya masing-masing. Islam masih kerap diidentikkan sebagai agamanya orang-orang Arab. Seringkali diidentikkan sebagai agamanya orang-orang Iran yang pernah menyandera para diplomat Amerika. Seringkali diidentikkan sebagai agamanya, kelompok Hizbullah di Libanon, dan kelompok Al Fatah di Palestina.

Di mata mereka, Islam itu adalah apa yang tampak di hadapan mata mereka. Dan ternyata, sebagai akibat perjuangan keras anti Islam dan Muslim, mereka telah terkooptasi untuk memahami Islam dari sudut-sudut yang kurang mengenakkan. 

Pada forum itu dijelaskan segamblangnya makna dan pengertian jihad. Bahkan menurut saya, jangankan non Muslim, Muslim saja banyak yang salah faham dengan konsep jihad. Ternyata, pada acara itu dibagikan sebuah buku kecil "Kamus istilah-istilah Islam". Setelah dibuka, ternyata buku yang ditulis seorang Islam itu juga masih mengartikan jihad sengan "holy war". Masya Allah. Betapa kita sendiri yang memang jauh dari pemahaman ajaran agama kita yang sesungguhnya.

Setelah semua presentasi selesai, termasuk menjelaskan konsep jihad dalam Islam, barulah mereka sedikit menarik nafas panjang, bahwa ternyata islam yang mereka fahami selama ini tidak sesuai dengan Islam konsepsi Ilahi.

Saya tidak bermaksud membicarakan acara tersebut, karena pesan sponsor agar kegiatan ini tidak perlu terlalu menyolok. Maklumlah, kalau terlalu menyolok, pasti ada pihak-pihak yang tidak senang di kota ini.

Yang jelas, sekembali dari acara tersebut, segera saya buka Channel 7 News yang kembali membuka peristiwa pemboman USS College di Yaman. Bahkan pada acara Prime News di malam harinya digambarkan seolah kejadian itu mendapat legitimasi dari keyakinan ummat Islam. Memang menyakitnya, tapi itulah kenyataan, bahwa di saat kita berupaya membersihkan atau minimal meminimumkan pandangan negatif terhadap ajaran hanif ini, pada saat itu pula kita tertumbuk dengan situasi yang telah dijalin dalam sebuah lingkaran syetan. Entah siapa yang harus disalahkan. Yang jelas, tantangan ke depan bagi kita untuk mencari jalan terbaik dari semua ini. 

( Asani, Profesor di Harvard University, mengajar Bahasa dan Kebudayaan Indo-Muslim. Menurut perkiraannya, hanya enam atau tujuh profesor Muslim yang mengajar Islam di jurusan agama uuniversitas-universitas terkemuka. Meski nenek moyangnya berasal dari Asia Selatan, Asani dilahirkan di Kenya. Pada 1973 dia masuk ke Amerika sebagai seorang imigran.)
Asani, Profesor di Harvard University, mengajar Bahasa dan Kebudayaan Indo-Muslim. Menurut perkiraannya, hanya enam atau tujuh profesor Muslim yang mengajar Islam di jurusan agama uuniversitas-universitas terkemuka. Meski nenek moyangnya berasal dari Asia Selatan, Asani dilahirkan di Kenya. Pada 1973 dia masuk ke Amerika sebagai seorang imigran.

Monday, July 20, 2015

Allah di Harvard



Saya mempunyai seorang mahasiswa pasca sarjana yang sedang melakukan riset literatur-literatur pasca-kolonialisme di jurusan sastra Inggris. Suatu ketika dia datang ke kantor saya untuk meminta bantuan menterjemahkan naskah-naskah orientalisme. Sesudahnya saya ditraktir makan malam. Kami bicara banyak hal dan pembicaraan kami benar-benar menarik. Di tengah-tengah obrolan ketika makan malam itu tiba-tiba dia berkata, "Saya harap Anda tak tersinggung dengan pertanyaan saya yang satu ini." "Pertanyaan apa itu?", tanya saya penasaran. "Bagaimana mungkin seorang intelektual seperti Anda, yang tentu amat rasional dan cerdas, memeluk sebuah agama yang menganjurkan jihad, perang suci, dan terorisme?"
Kalau Anda buka kamus bahasa Arab, Anda tak akan menemukan kata-kata "perang" maupun "suci " di bawah definisi jihad. Istilah itu sendiri terbentuk dari konsonan 'j', 'h', dan 'd'. Dan kalau Anda tengok ke akar katanya, jihad berarti "bekerja keras" atau "berjuang." Jadi kalau Anda berusaha keras untuk bangun dari tempat tidur di subuh hari, itu adalah jihad. Kalau Anda berjuang keras menerobos badai salju untuk pergi kerja, itu juga merupakan jihad. Jadi, sesungguhnya istilah jihad mempunyai pengertian gramatikal khusus, dan dalam konteks keagamaan mempunyai pengertian tertentu.

Sayangnya, sering kali umat Islam menggunakannya secara salah. Mereka pakai istilah jihad secara gampang dikaitkan dengan kepentingan politik. Akibatnya sebuah konsep relijius yang sangat indah telah disalahartikan.

Beberapa tahun terakhir ini, konsep jihad telah diasosiasikan dengan agama Islam secara negatif. Orang menyebut Perang Teluk berhubungan dengan Islam. Padahal tak ada kaitan apapun antara Perang Teluk dengan agama Islam. Perang Teluk bukan disebabkan persoalan agama, tetapi persoalan politik. Namun semua orang tetap memandangnya seolah-olah ada kepentingan agama di dalamnya. Mereka serta merta mengira bahwa Islamlah yang menyebabkan semua itu.

Pemahaman semacam itu bukan saja sangat naif, tetapi juga amat mencemarkan. Pemahaman itu menggambarkan seolah-olah Muslim tak sama dengan umat manusia lain, yang juga dimotivasi oleh kepentingan politik, ekonomi, dan masalah-masalah sosial. Banyak orang mengira, satu-satunya yang mendorong tindakan mereka adalah agama.

Sebenarnya analisis itu juga bisa dibalik. Tengoklah Hitler yang mengaku dirinya Kristen yang taat. Dia pikir, yang dikerjakannya adalah perbuatan yang dianjurkan oleh agama Kristen. Padahal yang dilakukan adalah perbuatan keji. Memang ada usaha untuk menjaga jarak antara perbuatannya dengan ajaran Kristen, karena tentu saja yang dilakukan Hitler lama sekali bukan tindakan yang dapat diterima oleh nilai-nilai Kristen.

Pada suatu masa, bangsa-bangsa Arab pernah menaklukkan Afrika Utara hingga Spanyol. Mereka memerintah hingga tujuh abad lamanya. Belakangan, Turki muncul dan menjadi ancaman bagi Eropa Timur. Jadi, saya pikir Eropa selalu sadar akan adanya sejumlah kelompok Muslim yang datang dari kiri kanannya. Dan tentu saja, bangsa-bangsa Muslim itu melakukan ekspansi tak lebih karena kepentingan pertumbuhan yang normal saja bagi sebuah kerajaan.

Patut dicatat bahwa penaklukan yang dilakukan oleh negeri-negeri Arab sama sekali bukan perang untuk memaksa rakyat untuk pindah agama, melainkan karena kepentingan politik. Namun banyak orang yang mengaitkannya dengan Islam, seraya menyebut-nyebut istilah "Tentara Islam". Mereka pikir satu-satunya motivasi orang-orang Arab dan Turki ketika itu adalah agama, tanpa menyadari bahwa mereka juga sama seperti kerajaan-kerajaan lainnya, yang punya kepentingan politik. Mereka juga ingin kekayaan, sebagaimana kerajaan-kerajaan Eropa menginginkannya. Kalau ada peluang untuk ekspansi, mereka akan melakukannya.

Namun, saya kira ada yang beranggapan bahwa ada masyarakat tertentu, penganut suatu kepercayaan yang anti-Barat, dan menghalalkan penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuan. Padahal, kalaupun Anda tengok sejarah kekuasaan Arab di Spanyol, tak pernah terjadi pemaksaan untuk bertukar agama menjadi Islam. Penganut Yahudi, Islam, dan Kristen tetap hidup berdampingan. Sebaliknya, ketika Katolik datang mengambil alih kekuasaan, Muslim dan Yahudi memperoleh tekanan.

Dalam sejarah konflik dan pertentangan inilah muncul stereotip-stereotip yang tak seharusnya terjadi. Stereotip menutupi segi-segi kemanusiaan yang utuh dari pihak lain. Kalau Anda pikir sekelompok orang sebagai orang-orang barbar, maka Anda tak akan lagi melihat  mereka sebagai  manusia biasa, yang mempunyai begitu banyak sisi. Dan kalau Anda  pikir masyarakat Muslim berbeda dengan lainnya, karena satu-satunya yang membuat mereka hidup adalah agama, berarti mereka adalah jenis manusia yang berbeda. Mereka tak punya perasaan yang sama seperti manusia lainnya. Dengan begitu, maka Anda dapat memperlakukannya semau Anda.

Pada abad-abad kedelapan belas, kesembilan belas, dan awal abad kedua puluh, ketika Eropa memerintah negeri-negeri Muslim, maka struktur kekuasaan berubah total. Ketika itu orang-orang Inggris memandang rendah penduduk asli. Perancis yang menguasai penduduk Muslim di Afrika Barat berpikir bahwa tugasnya adalah membuat orang-orang Muslim itu lebih beradab.

Jadi, ada pemahaman bahwa Islam merupakan ajaran yang primitif karena dikaitkan dengan kondisi sosial budaya rakyat yang ditaklukannya. Masalah serupa juga dihadapi oleh Muslim di negeri-negeri Eropa dewasa ini. Di Perancis misalnya, imigran Arab dari Afrika Utara, atau orang-orang keturunan Turki di Jerman, sering kali dianggap masih primitif.

Hal-hal yang dialami oleh Muslim di Amerika tak terjadi di tempat-tempat lainnya. Karena Amerika adalah negeri imigran, di sini Anda menyaksikan Muslim dari segala penjuru dunia, dengan latar belakang budaya yang berbeda. Pemahaman mereka tentang Islam juga sangat beragam, karenanya sering kali ada pertentangan, tetapi juga ada upaya untuk melakukan rekonsiliasi perbedaan itu.

Kini saatnya untuk bertanya: Apa sih artinya menjadi seorang Muslim? Kalau Anda pakai Islam sebagai ideologi politik, maka menjadi perlu untuk mendefinisikan siapa Muslim itu, bagaimana perilaku Muslim dan juga yang bukan Muslim. Dan kalau analisis dan pemahaman semacam ini Anda teruskan, maka Anda mendekati bahaya menafsirkan Islam secara bertentangan dengan ajaran Islam yang mendasar.

Al-Quran menyebut bahwa tak ada paksaan dalam agama. Bagaimana mungkin sebuah negara atau pemerintahan menggunakan Islam sebagai ideologi politik dengan memaksa rakyatnya shalat lima waktu. Di Saudi Arabia, ada yang disebut "Polisi Agama". Anda harus menutup toko dan dagangan Anda untuk pergi shalat jika waktunya tiba. Itu bukan ajaran Islam yang sesuai dengan Al-Quran, melainkan Islam yang digunakan sebagai alat politik.

Di banyak tempat di dunia Muslim, Anda temukan negara-negara yang mencoba mendefinisikan siapa Muslim dan siapa yang bukan Muslim, dan juga bagaimana perilaku yang Islami. Tetapi, di negeri ini, Amerika, Anda dapat menjadi seorang Muslim dan membicarakannya dengan sesama Muslim, tanpa ada seorang pun yang memaksa Anda untuk bergabung dengan kelompok mana pun. Inilah salah satu kehebatan Muslim di sini.

Dalam beragama, Anda membutuhkan dinamika, dan saya kira inilah yang sedang terjadi di Amerika. Bagi kelompok imigran, Islam masih merupakan tradisi dan istilah yang relatif baru. Dan masyarakat terus menerus melakukan pembenahan, belajar mengorganisasi kemajemukan dalam Islam. Ada usaha untuk lama-lama menyadari bahwa untuk menjadi seorang Muslim, kita dapat melalui banyak jalan, tanpa harus menghakimi satu lama lain.

Jihad saya sendiri meliputi dua hal: pertama, memahami standar ganda bagaimana Islam digambarkan di Barat; dan kedua, perjuangan untuk membuat kaum Muslimin memahami bahwa ada banyak jalan untuk menjadi Muslim. Syahadat itu ibarat sebuah tali yang menyatukan biji-biji tasbih. Semuanya tergabung menjadi satu dengan tali itu. Meskipun warnanya berbeda satu sama lain, biji-biji itu tetap merupakan satu kesatuan.

Beberapa tahun lalu, ada seorang Imam dari Islamic Center di New England. Dia seorang Sunni keturunan Lebanon, dan menjadi mahasiswa di sini. Dia diterima di Fakultas Teologi Harvard University untuk program master. Suatu ketika dia mengambil mata kuliah saya, "Pengantar Islam". Dia juga alumni Universitas Al-Azhar, Kairo. Ketika pertama kali bertemu dia saya katakan, "Apa ini masuk akal, seorang Imam dan Alumni Al-Azhar mengambil mata kuliah Pengantar Islam?" Kenapa tidak, katanya.

Di Al-Azhar, dia belajar Islam dengan interpretasi tertentu, yang amat berorientasi pada syariat, sebuah pandangan Sunni yang sangat klasik. Sedang dalam mata kuliah saya, mahasiswa diajak memahami berbagai jalan untuk menjadi Muslim. Kami mendiskusikan Al-Quran, kehidupan Muhammad Rasulullah. Kami mempelajari bagaimana Muslim menginterpretasikan banyak hal. Kami juga belajar bagaimana ahli sejarah agama yang tak memeluk Islam memandang Al-Quran dan figur Rasulullah. Di samping itu kami juga mempelajari berbagai aliran dalam Islam seperti Sunni, Syi'ah, dan berbagai etnik lain, terutama di negara-negara non-Arab.

Jadi itu merupakan pendekatan akademis Barat dalam memahami Islam dengan konteks yang amat luas. Kami juga mengkaji gerakan-gerakan Islam modern seperti Wahabbi di Saudi Arabia, reformasi di Afrika Barat, kasus Turki dan eksperimennya dengan Islam. Dan kami bicarakan juga hubungan Islam dan suku bangsa --di Amerika Serikat dan di Eropa. Jadi, saya pikir tak ada salahnya kalau seorang Imam seperti dia mempelajari banyak sisi tentang Islam. Semula saya sempat khawatir, apakah dia mau bersikap terbuka. Ternyata dia sungguh-sungguh serius, dan menulis beberapa makalah bagus.

Banyak Muslim yang memandang kemajemukan sebagai suatu ancaman, karena mereka pikir kalau setiap orang bisa mengaku Muslim, bisa-bisa kita kehilangan identitas yang paling mendasar sebagai seorang Muslim. Padahal, sesungguhnya kemajemukan merupakan sebuah kekuatan.

Terdapat beberapa hadis yang menjelaskan hak setiap Muslim untuk menafsirkan keimanannya dan perlunya menggunakan argumen yang logis untuk itu. Saya kira salah satu kekuatan dari masyarakat Islam generasi pertama, pada masa Rasul, adalah adanya kemajemukan pendapat, pandangan, dan banyaknya diskusi tentang berbagai pandangan itu.
Ada lagi sebuah hadis yang  menyatakan bahwa setiap orang berhak melakukan ijtihad. Suatu saat, ada seorang sahabat bertanya kepada Rasul: "Bagaimana kalau seseorang menafsirkan sesuatu dan ternyata benar?" Rasul berkata bahwa dia akan memperoleh dua pahala. Tetapi jika ijtihad itu salah, dia masih memperoleh satu pahala. Karena telah berusaha untuk itu.

Pada akhir semester, saya meminta mahasiswa yang Imam itu menjelaskan apa yang telah diperolehnya dari mata kuliah ini. Dia katakan, salah satu hal yang paling bermanfaat adalah bahwa dia belajar bagaimana berbicara tentang Islam dengan masyarakat Barat. Sering kali kita menyaksikan seorang Imam asal Timur Tengah diwawancarai media setiap ada kejadian yang berhubungan dengan Islam. Sayang, banyak di antara mereka yang tak dapat membahasakan perspektif Islam dengan idiom-idiom Amerika. Mereka selalu memberikan kesan atau pesan yang kurang pas. Tentu saja media masa senang dengan hal-hal semacam itu, karena makin mendukung stereotip. Beberapa waktu kemudian saya membaca sebuah media yang mengutip wawancara dengan Imam yang pernah jadi mahasiswa saya itu. Dia melakukannya dengan baik.

Untuk dapat berkomunikasi dengan jamaah yang amat beragam latar belakangnya --banyak di antaranya yang berpendidikan tinggi-- Anda harus dapat berbicara dengan bahasa mereka, dan jika Anda tak memiliki latar belakang pengetahuan seperti mereka, pembicaraan Anda tak akan menarik minat mereka.

Di Amerika, kantor-kantor Imam juga dirancang sedemikian rupa agar mirip dengan ruang kerja pendeta ataupun pastur. Dia bertutur pada saya: "Kegiatan yang saya lakukan disini tak bisa dibandingkan dengan tugas-tugas saya di Timur Tengah. Rasanya seperti jadi pendeta."

Pengalaman lain yang amat memalukan ada hubungannya dengan pekerjaan saya sebagai profesor agama Islam di Universitas ini. Baru-baru ini saya mengadakan kunjungan tiga minggu bersama alumni Harvard dan Yale ke Asia Selatan dan Timur Tengah. Kami menumpang sebuah kapal pesiar. Kapal itu bernama "The Great Trade Routes of the Indian Ocean and the Arabian Sea." Kami singgah di beberapa negara, mengunjungi banyak pelabuhan. Di atas kapal, tugas saya adalah mengajar sejarah, kebudayaan, bahasa, dan literatur wilayah-wilayah yang kami singgahi. Selama dua pekan lamanya saya menikmati berada di tengah-tengah mereka. Mereka juga tampak menikmati perjalanan itu, dan rasa ingin tahu mereka begitu tinggi. Pada salah satu sesi, saya memberi kuliah tentang Islam, mencoba menghapus stereotipnya.

Dalam perjalanan ke Jeddah dengan bus, kami melintasi sebuah bangunan masjid megah bercat putih. Masjid itu memiliki halaman depan yang cukup luas, dan ketika bus melintas di depan halaman itu si pemandu wisata bertutur: "Di halaman itulah setiap Jumat terjadi eksekusi." Para peserta pun lantas bertanya, "Eksekusi macam apa?" Dia jelaskan bahwa di situ dilakukan eksekusi dengan memenggal kepala, menggunakan pedang. "Itu dilakukan di depan umum," tambahnya. Hanya pada bulan Ramadhan eksekusi itu tak dilangsungkan. Kebetulan kami datang pada bulan Ramadhan. Dan salah seorang yang duduk di sebelah saya berujar, "Wah sayang sekali kita datang ke sini bukan pada 'Jumat berdarah'."

Inilah Arab Saudi. Negeri itu berusaha keras untuk memperbaiki citra Islam. Tetapi yang ditampilkan oleh masyarakat Arab malahan sebaliknya. Buklet tentang Islam memang mereka terbitkan dengan penampilan yang luar biasa indah. Sayang, dengan prihatin harus saya katakan bahwa Arab adalah bangsa yang paling banyak merugikan Islam, sekurang-kurangnya di mata publik. Saya merasa seluruh perjalanan saya dan apa pun yang saya lakukan, menjadi sia-sia. Kita dapat mengatakan apa pun kepada mereka, tetapi hal yang paling melekat di hati mereka adalah cerita tentang apa yang terjadi di halaman masjid megah bercat putih itu.

Ketika kami melintasi masjid itu, semua kamera pun lantas dimainkan. Dan Anda dapat bayangkan ketika mereka menunjukkan gambar hasil jepretannya kepada teman-teman di Amerika, sambil bercerita tentang eksekusi itu.

Citra adalah sesuatu yang sulit lepas dari ingatan manusia. Yang akan paling diingat tentang Timur Tengah adalah cerita tentang masjid dan eksekusi. Juga citra suatu masyarakat yang begitu represif. Tentang peran wanita. Mereka terheran-heran. Mereka bertanya kenapa kaum wanita tak boleh pergi ke Masjid. Padahal, tak ada satu pun ayat dalam Al-Quran yang melarang perempuan pergi ke Masjid, dan begitu pula tak ada satu pun hadis yang mengatur tentang itu. Sejarah juga menunjukkan bahwa di zaman Nabi, kaum wanita juga pergi ke Masjid. Dan saya berulang kali menjelaskan kepada mereka, "Di Amerika, para wanita pergi ke masjid dengan bebas."

Saya berharap mereka akan mengingat beberapa hal yang pernah saya ajarkan. Kami telah berusaha membedakan antara Islam sebagai sebuah agama dan keimanan dengan Islam sebagai ideologi politik.

Seorang wanita bertutur pada saya,"Al-Quran boleh saja mengatakan apa yang boleh dan apa yang tak boleh. Tetapi Muslim menjalankannya dengan cara mereka sendiri, dan itulah Islam, yang dipraktekkan dan kita lihat sehari-hari."
Yah, mau bilang apa lagi?
Asani, Profesor di Harvard University, mengajar Bahasa dan Kebudayaan Indo-Muslim. Menurut perkiraannya, hanya enam atau tujuh profesor Muslim yang mengajar Islam di jurusan agama uuniversitas-universitas terkemuka. Meski nenek moyangnya berasal dari Asia Selatan, Asani dilahirkan di Kenya. Pada 1973 dia masuk ke Amerika sebagai seorang imigran.

Monday, July 6, 2015

Mengapa saya masuk Islam?



Jalur saya untuk Islam                     
Suatu hari, tiba-tiba ketika saya sakit, saya  merasakan pengalaman aneh. Saya  terbaring di sofa dengan sakit perut, dan tiba-tiba terdengar suara berbisik  di kepala saya dan mengatakan kepada saya  'Anda harus berdoa kepada Allah  agar sakitmu cepat pergi'. Mendengar bisikan suara itu saya lalu mengikutinya dengan berdoa kepada Allah. Saya tidak ingin membuang waktu lagi dengan berlama-lama menahan rasa sakit, saya ingin sembuh. Tak lama rasa sakit itu pun pergi. Saya tidak berpikir apa-apa lagi tentang hal ini pada saat penyakit saya disembuhkan, tapi beberapa tahun kemudian saya ingat. Saya benar-benar penasaran dengan ajaran Islam. Saya mencari beberapa informasi tentang ‘untung rugi’ nya masuk Islam. Saya mencari informasi tentang Islam di internet, dan saya hanya  ingin tahu apa  sebenarnya Islam itu.

Bagaimana Saya Melakukannya:
Saya terus membaca dan mencari tahu tentang Islam, dan menjadi  lebih tertarik dan akhirnya yakin, lalu berkomitmen. Saya mulai berdoa di rumah untuk memutuskan masuk Islam.  Saya kemudian memutuskan untuk mencari waktu  tepat untuk pergi ke masjid untuk belajar lebih banyak tentang Islam.. Pada mulanya saya agak canggung  Tetapi saya terus mempelajarinya berulangulang, saya belajar mengikuti tata cara beribadah dan membaca doa-doa cara Islam meskipun dalam bahasa Inggris dan bukan bahasa Arab. Saya merasa sangat senang berada di sana dan saya merasa begitu damai, dari situ   saya tahu Islam adalah jalan yang benar. Saya jadi rajin pergi ke masjid ldan lebih menyenangkan lagi saya bisa bertemu dengan beberapa saudara muslim yang  telah banyak membantu saya dalam perjalanan mencari kebenaran. Seiring berjalannya waktu iman saya sudah semakin menguat Seiring berjalannya  waktu keyakinan dan iman saya sekarang sudah mantap dan Insya Allah minggu depan saya mulai bersyahadat. Amin

Nasihat
·        Meskipun semuanya tampak begitu aneh dan asing  pada awalnya, sewaktu  berdoa  dan membaca Al-Quran. Tapi pada akhirnya Anda akan menemukan kedamaian dan kekuatan dalam melakukan hal itu.
·        Ternyata apa yang saya ketahui dahulu tentang muslim jauh berbeda setelah saya benar-benar dekat dengan teman-teman saya sewaktu saya berada di masjid. Pada mulanya mereka terlihat asing namun anda merasa nyaman setelah berbicara dengan mereka sabagai teman.
·        Jangan takut untuk mengakui diri anda Muslim.
·        Memohon dan selalu berdoa kepada Allah agar Dia membimbing dan member anda kekuatan.
Reaksi Dari Teman Non-Muslim dan Anggota Keluarga
Teman dan rekan kerja non muslim mendukung saya menjadi muslim namun keluarga saya belum mengetahui saya seorang muslim.
 Perubahan Hidup Saya
Mengenakan jilbab, tidak minum alchohol dan makan  makanan yang halal.
Rajin pergi ke Masjid dan berkumpul dengan sesame muslim/muslimah.
Saya beruntung  sudah ada  2 masjid di daerah saya dan saya memiliki teman-teman muslim.

Thursday, July 2, 2015

Mengenang Akhlak Nabi Muhammad SAW.

Sepeninggal Nabi (wafat Nabi), kota Madinah dipenuhi dengan tangisan ummat Islam; sulit menolak kenyataan antara percaya - tidak percaya, Rasul Yang Mulia, al-Amin telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta pada Umar bin Khatab, "ceritakan padaku akhlak Muhammad". Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.

Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar bin Khatab merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, "ceritakan padaku keindahan dunia ini!." Badui ini menjawab, "bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini..." Ali menjawab, "engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4)"

Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi yang sering disapa "Khumairah" oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur'an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur'an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi itu bagaikan Al-Qur'an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur'an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu'minun[23]: 1-11.Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.

Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi, Aisyah hanya menjawab, "ah semua perilakunya indah." ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. "Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata,  "Hai Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.' Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.
Nabi Muhammad jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, "mengapa engkau tidur di sini." Nabi Muhammmad menjawab, "aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu."Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi mengingatkan, "berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya." Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.

Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul memanggilnya. Rasul memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi mencium sorban Nabi.

Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.Nabi Muhammad juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul selalu memujinya. Abu Bakar-lah yang menemani Rasul ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sakit. Tentang Umar, Rasul pernah berkata, "syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain." Dalam riwayat lain disebutkan, "Nabi bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta'wil) mimpimu itu? Rasul menjawab ilmu pengetahuan."

Tentang Utsman, Rasul sangat menghargai Ustman karena itu Utsman menikahi dua putri nabi, hingga Utsman dijuluki dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. "Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya." "barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik."Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah...ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.

Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad. Buktinya, dalam Al-Qur'an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad, Allah menyapanya dengan "Wahai Nabi". Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.Para sahabatpun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap rasul. Mereka ingin Rasul menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: "Angkat Al-Qa'qa bin Ma'bad sebagai pemimpin." Kata Umar, "Tidak, angkatlah Al-Aqra' bin Habis." Abu Bakar berkata ke Umar, "Kamu hanya ingin membantah aku saja," Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud membantahmu." Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal-amal kamu dan kamu tidak menyadarinya (al-hujurat 1-2)

Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, "Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia." Umar juga berbicara kepada Nabi dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi.Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi'ah. Ia berkata pada Nabi, "Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami"

Nabi mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi bertanya, "Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?" "Sudah." kata Utbah. Nabi membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi dengan sabar mendegarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah!

Ketika Nabi tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi bahwa Nabi akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya Nabi. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi? "Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu." Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi telah menyerap di sanubari kita atau tidak.

Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi berkata pada para sahabat, "Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!" Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, "Dahulu ketika engkau memeriksa barisan di saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini." Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap "membereskan" orang itu. Nabi melarangnya. Nabi pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah Nabi. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi keheranan ketika Nabi meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul berikan pada mereka.

Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi. Nabi berkata, "lakukanlah!" Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi dan memeluk Nabi seraya menangis, "Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah." Seketika itu juga terdengar ucapan, "Allahu Akbar" berkali-kali. sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sebelum Allah memanggil Nabi.

Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia. Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na'udzu billah.....

Nabi Muhammad ketika saat haji Wada', di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, "Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?" Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi melanjutkan, "Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah ku sampaikan pada kalian wahyu dari Allah.....?" Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, "benar ya Rasul!"

Rasul pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, "Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah!". Nabi meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pengajian ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah."Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah; semua budi pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad, betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah"

(Nadirsyah Hosen: Dosen Ilmu Syariah UIN Syarief Hidayahtullah, Jakarta)